(ABNA24.com) Brigjen Amir Hatami menanggapi pernyataan Pusat Komando AS di Asia Barat, CENTCOM, dengan menyatakan bahwa kehadiran ilegal dan agresif pasukan Amerika di Teluk Persia memicu ketidakamanan.
Sebelumnya, CENTCOM dalam sebuah pernyataan Kamis pagi menyatakan sebelas kapal perang Iran melancarkan gangguan dengan mendekati 6 kapal tempur Amerika Serikat.
Reaksi senada juga disampaikan Menteri luar negeri Iran terhadap pernyataan CENTCOM dengan memperingatkan AS mengenai cuitannya dua tahun lalu.
"Angkatan Laut AS tidak dapat menemukan jalannya di perairan Iran," tulis Zarif dua tahun lalu di akun Twitternya yang kembali diposting sebagai peringatan keras kepada CENTCOM.
"Nama Teluk Persia telah ada 2.000 tahun lalu jauh sebelum Amerika Serikat berdiri," cuit Zarif hari Kamis (16/4/2020).
"Mereka mungkin tidak tahu nama Teluk Persia atau tidak tahu apa yang mereka lakukan sekitar 7.000 mil dari rumah mereka di daerah Iran," tegas Menlu Iran.
Pernyataan Menteri Pertahanan Iran yang dikemukakan bertepatan dengan HUT Tentara Nasional negara ini menyampaikan pesan jelas bagi AS.
"Kami berada di rumah sendiri, sementara mereka datang dari belahan dunia lain untuk mengancam dan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara kawasan," tegas Brigjen Hatami.
Tehran telah berulangkali memperingatkan para pejabat AS bahwa mereka akan menghadapi reaksi keras dari Republik Islam jika sedikit saja menciptakan gangguan terhadap keamanan negara ini.
Pada Juni tahun lalu, sebuah pesawat nirawak mata-mata AS ditembak jatuh oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) setelah memasuki zona udara Republik Islam Iran di sekitar gunung Mubarak di provinsi Hormozgan.
Sebuah jet tempur AS baru-baru ini juga mencoba memasuki zona udara Iran, tetapi mengubah rutenya setelah mendapatkan peringatan keras dari sistem pertahanan udara Republik Islam Iran.
Pengalaman menunjukkan setiap langkah AS yang dilakukan dengan dalih mewujudkan keamanan, justru faktanya lebih banyak menyulut ancaman terhadap negara-negara kawasan. Demikian juga dengan operasi militer AS di Teluk Persia. Setidaknya terdapat tiga motif kehadiran pasukan AS di Teluk Persia.
Pertama menghadirkan gambaran pejoratif mengenai Republik Islam Iran yang tidak realistis sebagai aktor penyulut instabilitas regional.
Kedua, mengacaukan kawasan dan membentuk aliansi melawan Iran yang dilakukan bersamaan dengan penyebaran Iranophobia.
Ketiga, Amerika Serikat menciptakan tantangan keamanan di kawasan demi membatasi kemampuan pertahanan Iran.
Tiga motif Amerika Serikat ini menunjukkan bahwa tujuan utama Washington menyulut ketegangan di kawasan demi mencegah kerja sama keamanan antara negara-negara regional. Kini AS memasuki permainan baru dengan strategi menjadikan Iran sebagai ancaman kawasan, dan menampilkan dirinya sebagai pembela keamanan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Menyikapi fakta ini, Iran telah mengundang negara-negara di kawasan untuk bekerja sama dalam rangka menjaga keamanan kolektif dengan menyodorkan prakarsa "Perdamaian Hormuz".
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Republik Islam Iran memandang stabilitas dan keamanan Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai stabilitas dan keamanan bersama negara-negara kawasan dan dunia yang harus terus dijaga bersama.
...............
340